Kamis, 05 Mei 2011

Perlengkapan Membatik
Perlengkapan orang membatik tidak banyak mengalami perubahan dari dahulu sampai sekarang. Dilihat dari peralatan dan cara mengerjakannya membatik dapat digolongkan sebagai suatu kerja yang bersifat tradisionil.
1. Gawangan





Gawangan adalah perkakas untuk menyangkutkan dan membentangkan mori sewaktu dibatik. Gawangan dibuat dari bahan kayu, atau bamboo. Gawangan harus dibuat sedemikian rupa, sehingga mudah dipindah-pindah, tetapi harus kuat dan ringan.
2. Bandul
Bandul dibuat dari timah, atau kayu, atau batu yang dikantongi. Fungsi pokok bandul adalah untuk menahan mori yang baru dibatik agar tidak mudah tergesar tertiup angin, atau tarikan si pembantik secara tidak sengaja.
3. Wajan
Wajan ialah perkakas untuk mencairkan “malam”. Wajan dibuat dari logam baja, atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan diturunkan dari perapian tanpa menggunakan alat lain.
4. Kompor




Kompor adalah alat untuk membuat api. Kompor yang biasa digunakanadalah kompor dengan bahan bakar minyak.
5. Taplak
Taplak ialah kain untuk menutup paha si pembantik supaya tidak kena tetesan “malam” panas sewaktu canting ditiup, atau waktu membatik.
6. Saringan “malam”
Saringan ialah alat untuk menyaring “malam” panas yang banyak kotorannya. Jika “malam” disaring, maka kotoran dapat dibuang sehingga tidak mengganggu jalannya “malam” pada cucuk canting sewaktu dipergunakan untuk membatik.
7. Canting
Canting adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan. Canting untuk membatik adalah alat kecil yang terbuat dari tembaga dan bambu sebagai pegangannya. Canting ini dipakai untuk menuliskan pola batik dengan cairan lilin. Sebelum bahan plastik banyak dipakai sebagai perlengkapan rumah tangga, canting yang terbuat dari tempurung kelapa banyak dipakai sebagai salah satu perlengkapan dapur sebagai gayung. Dewasa ini canting tempurung kelapa sudah jarang terlihat lagi karena digantikan bahan lain seperti plastik. Canting untuk membatikpun perlahan digantikan dengan teflon.
MACAM-MACAM CANTING
Menurut fungsinya
- Canting Reng-rengan
Canting reng-rengan dipergunakan untuk membatik Reng-rengan. Reng-
rengan (ngengrengan) ialah batikan pertama kali sesuai dengan pola sebelum
dikerjakan lebih lanjut. Orang membatik reng-rengan disebut ngengreng. Pola
atau peta ialah batikan yang dipergunakan sebagai contoh model. Reng-
rengan dapat diartikan kerangka. Biasanya canting reng-rengan dipergunakan khusus untuk membuat kerangka pola tersebut, sedangkan isen atau isi bidang dibatik dengan mempergunakan canting isen sesuai dengan isi bidang yang diinginkan. Batikan hasil mencontoh pola batik kerangka ataupun bersama isi disebut Polan. Canting reng-rengan bercucuk sedang dan tunggal.
-.Canting Isen
Canting Isen ialah canting untuk membatik isi bidang, atau untuk mengisi
polan. Canting isen bercucuk kecil baik tunggal maupun rangkap.

b. Menurut besar kecil cucuk
Canting dapat dibedakan :
- Canting carat (cucuk) kecil.
- Canting carat (cucuk) sedang.
- Canting carat (cucuk) besar.

c. Menurut banyaknya carat (cucuk)
Canting dapat dibedakan :
- Canting cecekan.
Canting cecekan bercucuk satu (tunggal), kecil, dipergunakan untuk membuat titik- titik kecil (Jawa : cecek). Orang membuat titik-titik dengan canting cecekan disebut “nyeceki”. Selain untuk membuat titik-titik kecil sebagai pengisi bidang, canting cecekan dipergunakan juga untuk membuat garis-garis kecil.
- Canting loron.
Loron berasal dari kata loro yang berarti dua. Canting ini bercucuk dua,berjajar atas dan bawah, dipergunakan untuk membuat garis rangkap.
- Canting telon
Telon dari kata telu yang berarti tiga. Canting ini bercucuk tiga dengan susunan bentuk segi tiga. Kalau canting telon dipergunakan untuk membatik, maka akan terlihat bekas segi tiga yang dibentuk oleh tiga buah titik, sebagai pengisi.
- Canting prapatan
Prapatan dari kata papat yang berarti empat. Maka canting ini bercucuk empat, dipergunakan untuk membuat empat buah titik yang membentuk bujursangkar sebagai pengisi bidang.
- Canting liman
Liman dari kata lima. Canting ini bercucuk lima
untuk membuat bujursangkar kecil yang dibentuk oleh empat buah cicik dan sebuah titik ditengahnya.
-. Canting byok
Canting byok ialah canting yang bercucuk tujuh buah atau lebih dipergunakan untuk membentuk lingkaran kecil yang terdiri dari titik-titik, ; sebuah titik atau lebih, sesuai dengan banyaknya cucuk, atau besar kecilnya lingkaran. Canting byok biasanya bercucuk ganjil.- Canting renteng atau galaran
Galaran berasal dari kata galar, suatu alat tempat tidur terbuat dari bambu yang dicacah membujur. Renteng adalah rangkaian sesuatu yang berjejer ; cara merangkai dengan sistem tusuk. Canting galaran atau renteng selalu bercucuk genap ; empat buah cucuk atau lebih : biasanya paling banyak enam buah, tersusun dari bawah ke atas
8. Mori


Mori adalah bahan baku batik dari katun. Kwalitet mori bermacam-macam, dan jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan. Mori yang dibutuhkan sesuai dengan panjang pendeknya kain yang dikehendaki. Ukuran panjang pendeknya mori biasanya tidak menurut standar yang pasti, tetapi dengan ukuran tradisionil. Ukuran tradisionil tersebut dinamakan “kacu”. Kacu ialah sapu tangan, biasanya berbentuk bujur sangkar. Maka yang disebut “sekacu” ialah ukuran perseginya mori, diambil dari ukuran lebar mori tersebut. Jadi panjang sekacu dari suatu jenis mori akan berbeda dengan panjang sekacu dari mori jenis lain.
9. Lilin (“Malam”)



Lilin atau “malam” ialah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Sebenarnya “malam” tidak habis (hilang), karena akhirnya diambil kembali pada proses mbabar, proses pengerjaan dari membatik sampai batikan menjadi kain. “malam” yang dipergunakan untuk membatik berbeda dengan malam atau lilin biasa. Malam untuk membatik bersifat cepat menyerap pada kain tetapi dapat dengan mudah lepas ketika proses pelorotan.
10. Pola





Pola ialah suatu motif batik dalam mori ukuran tertentu sebagai contoh motif batik yang akan dibuat. Ukuran pola ada dua macam. Pola A ialah pola yang panjangnya selebar mori. Pola B ialah pola yang panjangnya sepertiga mori, atau sepertiga panjang pola A. jika pola A 1/4 kacu, ola B 1/12 kacu; Pola A ½ kacu, pola B 1/6 kacu. Yang dimaksud pola ¼, ½ atau 1/3 kacu ialah lebar pola 1/4, ½, atau 1/3 ukuran sebuah sisi sekacu mori. Tetapi ukuran pola A dan B sering tidak seperti yang dikatakan di atas, karena masing-masing tidak digunakan dalam selembar mori, atau karena ukuran lebar mori tidak selalu sama.

Proses Pembuatan Batik Tulis
Istilah-istilah peralatan yang digunakan dalam membuat batik:
Alat Keterangan
1. wajan kecil tempat untuk memanaskan malam (lilin) supaya cair
2. anglo/kompor minyak untuk memanaskan malam dengan bara api dari arang
3. tepas (kipas) untuk memperoleh angin agar bara api tetap menyala
4. gawangan untuk menempatkan mori yang akan dibatik
5. bandhul untuk menahan kain agar tidak bergerak-gerak ketika dilukis
6. uthik untuk mengais arang
7. Canting dengan berbagai macam ukuran sebagai alat untuk mencurahkan malam cair ke dalam mori yang digambari
8. kenceng untuk mendidihkan air ketika nglorot atau mbabar
9. cawuk untuk mengerok
10. alu untuk memukuli kain mori yang akan dibatik agar lemas dan memudahkan pembatik dalam proses pembuatannya.
# canting, lilin malam, kompor minyak, canting
# Gawangan

Fungsi utama Gawangan tentu saja sebagai tempat untuk menaruh kain yang akan diberi pola batik dan proses pembatikan awal, yakni menorehkan lilin atau malam ke kain dengan alat bantuan canthing.

Dhingklik digunakan untuk si pembatik duduk.

B. Bahan yang digunakan dalam membuat batik adalah kain mori. Kain ini bervariasi berdasarkan mutu dan kualitasnya. Selain digunakan sebagai bahan batik, kain mori juga digunakan sebagai kain kafan (pembungkus tubuh orang sudah meninggal bagi yang beragama Islam).

C. Alat dan bahanBahan pewarna yang digunakan dalam membatik terdapat dua macam, yaitu pewarna sintetis dan alami. Pewarna buatan biasanya menggunakan naptol, indigo, dan lain-lain.
Pewarna alami biasanya menggunakan bahan-bahan dari tumbuh-tumbuhan seperti daun, kayu kliko, daun tom, kayu jambal, soga, tegeran, dan lain sebagainya.


D. Setelah alat dan bahan dipersiapkan kemudian proses selanjutnya adalah pembatikan. Langkah-langkah dalam membatik adalah sebagai berikut:

1. Sebelum kain mori dibatik, biasanya dilemaskan. Caranya adalah dengan digemplong, yaitu kain mori digulung kemudian diletakkan di tempat yang datar dan dipukuli dengan alu yang terbuat dari kayu.

2. Setelah kain menjadi lemas, maka tahap berikutnya adalah mola, yaitu membuat pola pada mori dengan menggunakan malam.

3. Setelah pola terbentuk, tahap selanjutnya adalah nglowong, yakni menggambar di sebalik mori sesuai dengan pola. Kegiatan ini disebut nembusi.

4. Setelah itu, nembok yang prosesnya hampir sama dengan nglowong tetapi menggunakan malam yang lebih kuat. Maksudnya adalah untuk menahan rembesan zat warna biru atau coklat.

5. Tahap selanjutnya adalah medel atau nyelup untuk memberi warna biru supaya hasilnya sesuai dengan yang diinginkan. Proses medel dilakukan beberapa kali agar warna biru menjadi lebih pekat.

6. Selanjutnya, ngerok yaitu menghilangkan lilin klowongan agar jika disoga bekasnya berwarna coklat. Alat yang digunakan untuk ngerok adalah cawuk yang terbuat dari potongan kaleng yang ditajamkan sisinya.

7. Setelah dikerok, kemudian dilanjutkan dengan mbironi. Dalam proses ini bagian-bagian yang ingin tetap berwarna biru dan putih ditutup malam dengan menggunakan canting khusus agar ketika disoga tidak kemasukan warna coklat.

8. Setelah itu, dilanjutkan dengan nyoga, yakni memberi warna coklat dengan ramuan kulit kayu soga, tingi, tegeran dan lain-lain. Untuk memperoleh warna coklat yang matang atau tua, kain dicelup dalam bak berisi ramuan soga, kemudian ditiriskan. Proses nyoga dilakukan berkali-kali dan kadang memakan waktu sampai beberapa hari. Namun, apabila menggunakan zat pewarna kimia, proses nyoga cukup dilakukan sehari saja.

9. Proses selanjutnya yang merupakan tahap akhir adalah mbabar atau nglorot, yaitu membersihkan malam. Caranya, kain mori tersebut dimasukkan ke dalam air mendidih yang telah diberi air kanji supaya malam tidak menempel kembali.

10. Setelah malam luntur, kain mori yang telah dibatik tersebut kemudian dicuci dan diangin-anginkan supaya kering.


Sebagai catatan, dalam pembuatan satu potong batik biasanya tidak hanya ditangani oleh satu orang saja, melainkan beberapa orang yang tugasnya berbeda.Berdasarkan tahapan proses pembuatan batik di atas, dapat diinventarisasikan istilah-istilah yang unik dalam membatik.

E. No. Daftar Istilah Keterangan
1. digemplong menggulung kemudian diletakkan di tempat yang datar dan dipukuli dengan alu yang terbuat dari kayu

2. mola membuat pola pada mori dengan menggunakan malam

3. nglowong menggambar di sebalik mori sesuai dengan pola

4. nembok prosesnya hampir sama dengan nglowong tetapi menggunakan malam yang lebih kuat

5. medel atau nyelup memberi warna biru supaya hasilnya sesuai dengan yang diinginkan

6. ngerok menghilangkan lilin klowongan agar jika disoga bekasnya berwarna coklat

7. mbironi dalam proses ini bagian-bagian yang ingin tetap berwarna biru dan putih ditutup malam dengan menggunakan canting khusus agar ketika disoga tidak kemasukan warna coklat

8. nyoga memberi warna coklat dengan ramuan kulit kayu soga, tingi, tegeran dan lain-lain.

9. mbabar atau nglorot membersihkan malam dengan cara memasukkan kain mori ke dalam air mendidih yang telah diberi air kanji supaya malam tidak menempel kembali.

Batik dibedakan menjadi 2 ada:
1.Batik tulis
2.Batik cap


Contoh batik Cap :




Selain itu pada jaman sekarang muncul cara pembuatan batik menggunakan mesin print. Batik ini lazim disebut dengan batik printing.
Contoh batik printing :



Ketiga jenis batik tersebut banyak dijumpai di pasaran. Apalagi dengan menjamurnya batik China yang membanjiri pasar batik Indonesia. Sehingga kita harus jeli dalam memilih batik. Jangan sampai salah beli, karena ketiga jenis batik tersebut memiliki perbedaan nilai yang signifikan.
Berikut saya uraikan cara membedakan batik tulis, batik cap, dan batik printing:
(1) Batik Tulis :
1. Digambar secara manual, menggunakan tangan dengan menggunakan canting.
2. Antara ornamen yang satu dengan ornamen lainnya agak berbeda walaupun bentuknya sama. Tidak bisa sama persis, karena dibuat secara manual menggunakan tangan.
3. Bentuk isen-isen relatif rapat, rapih, dan tidak kaku. Apalagi jika pembatiknya telaten dan rajin, hasilnya juga lebih rapi.
4. Gambar batik tembus pada kedua sisi kain.
5. Biasanya memiliki aroma yang khas, karena kainnya diwarnai dengan pewarna alam,seperti kulit kayu, kayu tingi (hitam), kayu teger (kuning), kayu jambal (coklat), daun Tom dan akarnya (biru). Tapi jika pewarna yang digunakan bukan pewarna alam, aroma khas tidak muncul.
6. Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan batik tulis relatif lebih lama. Pengerjaan batik tulis yang halus bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan lamanya. Lamanya pengerjaan tergantung pada tingkat kerumitan motifnya. Makin rumit motifnya, tentu saja membutuhkan waktu lebih lama untuk pengerjaannya.
7. Harganya relatif lebih mahal, karena proses pengerjaannya rumit, dari segi kualitas juga lebih bagus, eksklusif, dan merupakan karya personal.
(2) Batik Cap :
1. Dibuat dengan menggunakan cap, namun masih tetap menggunakan teknik batik (malam sebagai bahan perintang warna).
2. Antara ornamen yang satu dengan ornamen lainnya pasti sama. Karena menggunakan alat bantu cap, sehingga memungkinkan untuk mendapatkan hasil motif ornamen yang seragam.
3. Ukuran garis motif relatif lebih besar dibandingkan dengan batik tulis.
4. Namun bentuk isen-isen tidak rapi, agak renggang dan agak kaku. Apabila isen-isen agak rapat maka akan terjadi mbeleber (goresan yang satu dan yang lainnya menyatu, sehingga kelihatan kasar).
5. Gambar batik tembus pada kedua sisi kain.
6. Warna dasar kain biasanya lebih tua dibandingkan dengan warna pada goresan motifnya. Hal ini disebabkan batik cap tidak melakukan penutupan pada bagian dasar motif yang lebih rumit seperti halnya yang biasa dilakukan pada proses batik tulis.
7. Waktu yang dibutuhkan untuk sehelai kain batik cap lebih cepat dibanding batik tulis.
8. Harga batik cap relatif lebih murah dibandingkan dengan batik tulis. Karena kualitasnya masih kalah dengan batik tulis, diproduksi semi massal, sehingga kurang istimewa dan kurang eksklusif.
Spoiler for contoh batik cap

(3) Batik Printing :
1. Pengerjaannya dengan menggunakan mesin. Tidak menggunakan teknik batik. Tidak menggunakan malam sebagai bahan perintang warna.
2. Teknik yang digunakan, teknik cetak layaknya industri tekstil. Tidak jarang menggunakan mesin cetak yang komputerise.
3. Ornamen bisa sama, bisa tidak, karena tergantung desain batik yang akan ditiru.
4. Batik printing biasanya meniru motif batik yang sudah ada.
5. Namun Karena proses pengerjaannya satu muka saja, maka warna batik printing tidak tembus di sisi baliknya.
6. Waktu pengerjaannya lebih cepat. Merupakan industri massal, sehingga tidak memiliki nilai eksklusifitas sama sekali.
7. Harga lebih murah daripada kedua jenis batik diatas.

Adapun motif batik yang di kenal di daera Jawa Tengah antara lain : Pamiluto, parang curigo, parang jenggot, parangkusuma, sri nugraha, truntum dsb